Berawal dari pertanyaan sangat sederhana "Kapan lulus?" Memunculkan boom besar dari dalam diri. Hingga ribut dengan keluarga bahkan pasangan.
Jelas ada rasa malu, tapi sekarang saya nggak mau lagi mengasihani diri sendiri dan 'merasa gagal'. Saya mau move on. Ini bagian dari perjalanan hidup saya, jadi saya mau belajar dari kesalahan dan menerimanya dengan ikhlas.
Saya semester 11, dan baru sekarang saya benar-benar yakin saya bisa lulus. Baru sekarang saya bisa berani berproses dengan skripsi dan segala administrasinya.
Kalau saya lihat ke belakang, faktor utama yang bikin saya lulus lama itu ada 3: overthinking, rendah diri, dan lari dari masalah.
Saya sering nangis setiap ngerjain skripsi karena overthinking. Gimana kalau nanti aku diomelin karena tulisanku jelek banget? Gimana kalau yang aku tulis itu ngarang-ngarang aja dan nggak jelas? Aku bisa nggak ya ngerjain ini? Semua orang bilang tinggal selangkah lagi, tapi yang saya rasakan langkah terakhir itu sangat lebar dan sulit.
Keluarga saya sempat mencemooh saya karena saya gampang nangis, tapi di sisi lain mereka juga nggak menekan-nekan saya untuk segera lulus karena tahu itu cuma akan bikin saya tambah stress. Jadi impaslah.
Yang bikin saya kacau, saya nggak cuma overthinking soal skripsi, tapi pandemi bikin semua berantakan. Gak bisa diskusi dengan teman secara langsung karena perkuliahan dilakukan secara daring. Di rumah gak pernah bisa fokus dengan lingkungannya. Patah tulang yang harus membuat saya beristirahat beberapa bulan. Bapak meninggal dunia karena COVID-19. Sampai adek memutuskan menikah mendahului saya karena terlalu lama untuk menunggu saya selesai kuliah. Akhirnya sih itu cuma pikiran-pikiran yang nggak pernah saya lakukan karena saya nggak berani menghadapi reaksi orang tua. Rasanya saya semakin rendah diri setiap semester berlalu.
Menghubungi dosen dan staf prodi adalah hal yang sangat saya takuti. Kapan waktu yang tepat untuk kirim WA? adalah pertanyaan yang sulit. Saya sangat menghindari kena omelan apalagi dimarahi. Saya nggak akan bimbingan kecuali saya sudah yakin banget sama bab yang saya buat. Dosen pembimbing yang saya pilih, ternyata terlalu baik. Beliau-beliau sangat percaya dengan pengalaman saya di topik skripsi ini sehingga beliau-beliau nyaris tidak pernah memberi saya saran apa-apa dan tidak mengejar saya untuk lebih cepat menyelesaikan skripsi. Akhirnya saya jadi jarang bimbingan karena berpikir paling nanti langsung di-acc. (Meskipun begitu, saya selalu gemetaran tiap bimbingan).
Rendah diri. Semua orang percaya sama saya. Ini topik keahlian saya, jadi mereka pikir saya pasti bisa. Saya harus belajar sendiri. Semua orang percaya sama saya, tapi saya nggak percaya sama diri saya sendiri. Kenapa kalian bisa percaya sama aku, sih? Aku kan kayak gini! Jangan percaya sama aku segitunya! Bantuin aku! Kok kalian gampang banget ngobrol sama dosen buat bimbingan? Kok kalian berani sih? Kenapa aku aja yang kayak gini? Kenapa aku penakut banget, sih? Iiihh…
Karena
ketakutan berlebihan, saya jadi lari dari masalah. Ngapain menghadapi
hal yang bikin aku takut dan cemas. Saya mau kabur aja. Namun,
skripsi ini berbeda dengan tugas organisasi atau kuliah. Ketika saya berusaha
kabur dari mereka, tugas akan lelah mengejar saya, tapi skripsi ini masih
mengejar saya terus. Otak saya sepertinya tidak didesain untuk memikirkan konsep mentah seperti skripsi. Lebih mudah mengerjakan tugas karena sudah ada jawabannya. Entahlah~
Sampai saya berantem sama pasangan karna setiap ditanya progres skripsi sampai mana saya tidak bisa menjawab. Saya bingung harus menjawab bagaimana. Saya gatau saya diem dan bikin suasana makin gak enak. Saya gak bisa cerita apa-apa didepannya. Padahal dia pengen bantu tapi aku tidak bisa menjelaskan apapun. Banyak orang yang sayang sama saya dan percaya kalau aku bisa nyelesaiin skripsi. Aku hanya harus percaya diri.
Sembari mulai jalan lagi, saya juga coba mengubah diri dari segi emosi dan spiritual.
Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.
Q.S. Ar-Ra'd : 11
Saya yang harus mulai berubah.
Apa yang meninggalkanku tidak akan menjadi takdirku dan apa yang menjadi takdirku tidak akan meninggalkanku.
Umar bin Khattab r.a.
Skripsi, lulus kuliah, saya yakin mereka ditakdirkan untuk saya karena mereka tak kunjung pergi ketika saya kabur. Jadi saya harus hadapi bagaimanapun tidak sukanya.
Saya jadi ikut banyak webinar supaya saya jadi punya rutinitas lagi. Kebetulan salah satu webinar yang saya ikuti adalah terkait Adab Sebelum Ilmu. Saya belajar banyak di webinar itu. Ternyata ada beberapa hal yang menghambat masuknya ilmu, seperti dilakukannya maksiat-maksiat rahasia dan dimakluminya kelelahan-kelelahan kecil. Menuntut ilmu adalah proses mendakinya kita ke derajat atau strata yang lebih tinggi, jadi wajar aja kalau prosesnya amat berat dan melelahkan. Harus kuat-kuat dan nggak boleh gampang nyerah.
Webinar lain yang sangat mempengaruhi saya adalah tentang Mengenal Diri. Saya diajari bahwa ada hal yang bisa kita kendalikan dan hal yang tidak bisa kita kendalikan. Bagian ikhtiar alias usaha, itu bagian yang bisa kita kendalikan dan kita wajib berusaha semaksimal kita di situ. Nah, bagian hasil, itu sepenuhnya kuasa Tuhan, kuasa Allah. Kadang hasil itu bisa aja nggak berkorelasi dengan usaha kita. Bisa aja kita udah berusaha semaksimal mungkin dan masih nggak dapat hasil yang kita inginkan. Itu bukan karena Allah nggak sayang sama kita, melainkan karena Allah mau ngasih hasil yang lebih baik buat kita. Misalnya ada dosen yang marahin saya tanpa saya tahu sebabnya, ya udah santai aja, biarin aja. Kalau masih ada kesalahan yang terjadi meskipun kita udah berusaha sebaik-baiknya, ya udah belajar aja dari kesalahan itu dan move on. Kalau kita gagal mendapatkan sesuatu karena kurang maksimal berusaha, ya udah jadikan pelajaran dan berusaha lebih maksimal di kesempatan berikutnya. Mengalami kegagalan dan kesalahan itu nggak membuat kita jadi hina kok.
Jangan menilai seseorang dari keburukan dan kebaikan yang menimpanya, tapi nilailah orang itu dari keburukan dan kebaikan yang ia lakukan.
Keadaan yang buruk tidak membuat kita lebih rendah, tapi keburukan yang kita lakukanlah yang membuat kita lebih rendah. Kalau masih suka jatuh dalam perbuatan kurang baik, ya bangkit lagi. Perbaiki. Gapapa jatuh lagi, bangkit lagi. Yang penting niat kita untuk jadi lebih baik tetap terjaga.
Karena hasil itu wilayah kekuasaan Tuhan, berdoa jadi penting. Mintalah sedetail-detailnya, nggak usah malu, nggak usah takut gimana-gimana, minta aja. Berdoa yang baik, lakukan usaha yang baik, lalu pasrahkan dan terima hasilnya dengan baik bagaimanapun itu.
Well, saya juga masih dalam perjalanan, jadi mohon doanya ya.
Komentar
Posting Komentar