Kalau ada sifat yang merugikan bagi pelakunya dan bahkan berpotensi mendatangkan marabahaya menurutku yaitu sifat malas!
Segala bentuk kemalasan tuh berbahaya! Malas bangun pagi ntar rezekinya keburu dipatok ayam, katanya sih. Males mandi pagi ntar jadinya gatal-gatal. Males segalanya ya ntar ketinggalaan jauh sama yang lainnya. Tetapi, di sini aku membicarakan kebiasaan malas melakukan sesuatu yang berakibat kita jadi mudah lupa. Malas ngapain tuh maksudnya? Malas mengarsipkan hal-hal penting.
Seringkali, hal-hal penting termuat dalam sebuah peristiwa. Maka kita mengabadikan peristiwa untuk mengabadikan hal penting di dalamnya. Caranya beragam: bisa dengan menarasikan peristiwa lewat tulisan, membuat rekaman visual, atau rekaman suara. Mengabadikan momen secara visual adalah yang paling banyak ditemui pada saat ini. Aku pun melakukannya: memotret dan merekam hal menarik atau hal penting yang kutemui setiap waktu. Tetapi, buatku ada yang kurang rasanya jika sebuah peristiwa tidak dinarasikan secara tertulis.
Menarasikan peristiwa ke dalam tulisan, berbeda dengan mengarang. Tantangannya adalah bagaimana agar sebuah peristiwa terdeskripsikan dengan baik. Diperlukan segala detail yang tertangkap indera untuk kemudian dinarasikan ke dalam tulisan. Nah! Dalam proses mengingat-ingat detail itulah, paling fatal jika terserang rasa malas! Sudah terpikir ingin mencatat peristiwa ini, peristiwa itu, tapi terus menunda hingga akhirnya lupa.
Terkadang aku kagum sama para trevel blogger yang bisa dengan rinci menceritakan perjalanan mereka dengan menambahkan bumbu kerarifan lokal maupun hal yang bermanfaat lain bagi pembacanya. Berbeda dengan tulisanku yang terlalu melibatkan hati dan emosi. Alhasil tulisannya cenderung seperti curhatan aja, minim makna yang bisa ditangkep. Atau bahkan tidak ada.
Proses memperoleh data harian nyaris sama seperti menulis diary: segala informasi yang dianggap penting harus segera dicatat dan dideskripsikan serinci mungkin, jangan ada yang terlewat. Sama sekali tidak boleh malas, sebab ingatan manusia sangat terbatas. Data harianlah yang jadi penolong ketika riset di lapangan berakhir, lalu tiba saatnya duduk di depan komputer untuk tahap analisis—sebelum akhirnya mengungkap hasil penelitian.
Hehehehe serius amat ya jadi ngomongin penelitian. Itu tadi aku dapet dari salah satu akun penulis tapi lupa namanya apa ya karena itu ingatan manusia sangat terbatas dan tidak langsung dicatat. Hahaha alibi ini mah.
Tapi ini memang perkara serius...
Aku menyesal telah abai menyusun 'data harian' atas peristiwa (yang kuanggap) penting sehari-hari. Menyesal tidak langsung membuat review buku yang dibaca, film yang ditonton, atau diskusi yang diikuti. Tidak langsung mengabadikan sebuah perjalanan ke dalam catatan.
Semua karena sifat jelek bernama ma-las! Apakah aku sedang menyalahkan sifat malas? Bukan, malas juga kadang menyenangkan bahkan dibutuhkan tetapi harus sesuai porsinya ya.
Aku sempat terpikirkan untuk membuat scrapbook sejak bulan lalu, tepat saat usiaku menginjak angka 20. Eh gila udah 20 aja huhu. Tapi, coba tebak, aku kena kutukan sifat malas dan suka menunda-nunda!
Huh, memalukan.
Kupikir, setiap catatan pasti bermanfaat, setiap arsip pasti ada gunanya. Paling tidak untuk diri sendiri. Jadi sumber rujukan di kemudian hari, sehingga diperoleh pemahaman, pembelajaran, apapun itu—lagi dan lagi. Hah! Terserah, terserah saja. Barangkali dengan begini bisa terhindar dari pikun di usia muda!
Cheers,
Komentar
Posting Komentar