Langsung ke konten utama

Meredam Ego

Sebelum bikin tulisan ini aku terlebih dahulu mengintip kamus KBBI di smartphone ku mencari arti dari kata ego. Ego berarti aku, diri pribadi, rasa sadar akan diri sendiri dan konsepsi individu tentang dirinya sendiri. Sedangkan egois artinya orang yang selalu mementingkan diri sendiri.

Semakin aku menyadari ternyata aku manusia yang egois ya, egois banget. Gamau menghargai orang lain tapi ingin selalu dihargai. Selalu ingin diperhatikan. Selalu ingin menang sendiri. Gamau disalahin tapi sering banget nyalahin orang lain tanpa sadar. Aku semakin tidak peduli dengan orang lain dengan kata lain mementingkan diri sendiri.

Tapi menurutku manusia memang dasarnya ego, suka mementingkan diri sendiri. Hanya kita mampu menahannya atau tidak.

Sering aku ngerasain seperti tidak tau apa yang harus diperbuat padahal ada banyak kerjaan yang sedang tertimbun di hadapan. Merasakan beban hidup yang berat dan tidak tahu harus bahagimana menguranginya. Merasa tertekan dan tidak tau mau melangkah kemana. Itu semua mungkin karena terdapat kegelapan di dalam diriku yang membuat ego menjadi tinggi.

Setiap masalah pasti selalu dapat diselesaikan, bahkan banyak cara untuk menyelesaikan suatu masalah. Masalah yang sedang aku alami saat ini sebenarnya dapat diatasi dengan mudah, karena aku sendiri sudah menyadari masalah tersebut. Aku terkadang merasa nyaman dan tidak sadar dengan kesulitannya dalam mengendalikan emosi dan amarah, namun aku sudah merasa menyesal dan depresi dengan masalah yang sedang kuhadapi. Yah maklum perasaan ini masih labil banget, masih sering goyah.

Tindakan yang paling penting untuk mengatasi masalah adalah memulainya saat ini juga. Jangan ditunda-tunda! Tapi yeah ngetik gini doang mah gampang. Kadang kalo terlalu lelah mah semua dibodoamatin. Iya kadang sampe nggak peduli dengan orang orang sekitar, nggak peduli dengan keadaan sekitar. Asik main smartphone, asik main sesuatu yang nggak jelas. Padahal sebenarnya mereka peduli. Mereka memperhatikan. Namun kadang aku menyepelekan. Heran sama diri sendiri. Sadar sih sadar tapi kok susah banget dirubah.

Mulai belajar meredam ego yang seakan-akan meminta untuk didengarkan. Sulit? Iya, memang sulit meredam ego dan menahan sabar, karena hadiah yang Allah janjikan kepada kita adalah keindahan surga. Maka, jagalah amarah dan jangan membenci, abaikan saja yang menyakiti, karena segala tindakannya pasti terbalas. Allah yang akan membalasnya, oleh karena itu tidak usah kita kotori hati untuk membenci atau ingin membalasnya saat ada orang yang menyakiti.

Intinya mah aku ya mungkin juga buat yang lagi baca semoga bisa tetep sabar, dapat meredam ego yang maunya diperhatiin mulu. Jangan kayag aku yang sukanya nyalahin terus. Kalo lagi ngomong gitu gapapa deh kamu ngritik aku ngasih masukan pas udah di kritik eh sakit ati. Ini aku banget. Tapi pengen denger juga dari mereka jeleknya aku kayag gimana. Padahal sebelumnya udah janji gak bakal sakit ati, eh tapi kalo diomongin gitu sakit ati juga. Padahal itu kan sifat asli aku yang diliat dari mereka. Seharusnya aku terima dong. Iya sih bisa diterima tapi jadi mikir kok aku sejelek itu ya, aku egois banget ternyata eh baru sadar. Dasar manusia.

Iya aku masih manusia gaes, jadi kalo aku salah itu dibenerin yak dikasih tau salahnya tuh dimana. Harusnya aku gimana. Jangan didiemin. Kalo diem tapi masih perhatian mah gapapa tapi takutnya diem dan gak dipeduliin kan sedih beud.

Aku juga berusaha buat menghargai orang lain nih. Jengkel sebenernya kalo pendapat dari orang lain tuh nggak sepemahaman atau semaunya aku. Nah kan dari sini egonya udah kelihatan.

Udah udah hanya perlu mengingatkan diri sendiri untuk tetap sabar dan ikhlas berkali kali agar sadar woyy sadar. Ampun greget banget aku nulisnya. Sulit itu karena aku belom ikhlas. Masih dalam proses belajar. Okke

Sekian. Selamat beraktivitas!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Just Try, and Feel

Belakangan ini aku mulai sering meminum minuman yang dicintai para seniman. Yep, Kopi. Aku menyukai kopi yang semula aku benci karena minuman ini terlihat mengerikan dengan ampas-ampas yang mengotori keseluruhan dinding cangkir. Kebencian yang terjadi, ternyata hanya karena ketidaktauanku tentang minuman ini. Aku menikmatinya sesuai dengan seleraku, aku hanya ingin enjoy dengan rasa kopiku. Tentang hal yang aku benci itu hanya karena aku tidak tau dan tidak memahami apa yang aku benci. Semua ketakutan yang aku takutkan itu hanya karena aku tidak berani untuk melawannya. Dari Studi Fenomena Geosfer kemarin –tunggu cerita lengkapnya- aku mendapat satu pelajaran bahwa ketika kamu mampu mengalahkan rasa takut dan mencoba menikmati ketakutanmu. Kamu akan merasakan sesuatu dari ketakutan itu. Iya aku takut akan kedalaman air, entah fikiranku yang tidak masuk akal. Karena aku selalu berfikiran bahwa air yang dalam terdapat monster didalamnya yang akan menarik kakiku u...

Tentang Pulangku

Belajarlah untuk tidak mengabaikan hal yang kecil, karena hal kecil akan menjadi besar apabila diabaikan. Banyak hal yang biasa saja adalah wujud dari kasih sayang. Hmm aku contohin hal hal yang ada disekitar ku yang mungkin sekilas terlihat biasa aja tapi itu sebenarnya wujud dari kasih sayang. Akutuh kemaren abis naik gunung yah, tapi hapenya gak dibawa dengan alesan males bawa hp terus posisinya batrenya lagi habis. Sebelumnya aku dah bilang sama Ibu kalo mau naik tgl 29. Pas mau berangkat aku gak kepikiran buat ngehubungin lagi pihak rumah kalo mau naik hari itu. Alhasil ibuku nyariin selama 3 hari itu. Mulai dari ibu kos, bapak kos, temen2 kos semuanya ditanyain. Dan aku gatau itu:’)))) Pas buka hape dapet pesan WhatsApp dari adek, “ mbak lagi dimana? Di telfon kok nggak pernah aktif hapenya” “masih di semarang dek, abis ke lawu” “kapan pulang, dicariin ibu kok nggak ngabarin lagi kalo mau ke gunung” Dan saat itu aku langsung lemes, rasanya pe...

Tentang sebuah prioritas.

Beres-beres kamar adalah aktivitas paling menyenangkan dari sekian banyak pekerjaan rumah yang lain. Yah walopun beresinnya seminggu sekali juga sih. Dari aktivitas tersebut tidak sengaja aku menemukan selembar kertas yang berisi tentang “ Must Reach selama aku kuliah di Universitas Negeri Semarang ” isinya; 1. Naik gunung minimal 10x 2. Join Mahasiswa Pecinta Alam 3. Jadi Atlet di Mapala 4. Perbanyak teman, jangan dulu pacaran 5. Mengunjungi tempat tempat baru 6. Lulus Cumlaude 7. Freelance Content Writer Dan tiba-tiba aku berpikir, kok apa yang aku tulis di tahun pertama kuliah bisa beneran terwujud padahal aku lupa pernah menuliskan hal tersebut. Tiba-tiba saja kertas tersebut muncul kembali di tahun akhir kuliah. Dan beberapa poin tersebut, poin nomor 6 menjadi sorotanku kali ini. Ingat? 5 tahun yang lalu aku sungguh beruntung dan sangat bersyukur mendapat kesempatan untuk akhirnya bisa mengenal dunia luar yang selama ini aku inginkan. Kalau dilihat kembali dul...