“Dadio
wong ing paran, lan sinauo teko paran” kalau di terjemahkan dalam
bahasa Indonesia kurang lebih artinya seperti ini. “Jadilah
pejalan/musafir, dan belajarlah dari perjalananmu”.
Waktu itu, dalam pikiranku jika dikabulkan keinginan itu, pastilah rasanya akan sangat menyenangkan. Bisa melihat lihat suasana baru, lingkungan baru dan berkenalan dengan orang orang baru. Dan semua itu tanpa mengeluarkan biaya sendiri.
(⌣__⌣ )hmmm…….
Aku ingat pesan ayahku, bahwa aku harus jadi mata dan kakinya. Karena beliau memakai kaki palsu dan dengan kondisinya yang seperti itu tidak memungkinkan untuk dapat pergi memikmati alam bebas dengan leluasa. Ketika aku telah menapaki tempat yang baru aku selalu menceritakan semuanya kepada ayahku.
Perjalanan selalu menciptakan kenangannya sendiri, bukan masalah sudah sejauh mana aku menjelajahi dunia ini, tapi dengan siapa aku akan menjelajahi dunia ini, karena dengan partner yang cocok akan menciptakan cerita yang mengagumkan walaupun tempatnya biasa saja.
Namun entah aku masih mencari partner itu hehe. Siapakah gerangan yang akan menemaiku nantinya?
Satu hal yang selalu menguatkanku untuk kembali menapaki jalanan asing yang belum pernah aku datangi yaitu Ayahku, namun disisi lain naluri seorang Ibu selalu kawatir dengan anaknya.
“mas ajakin aku jalan-jalan ya”
“mas aku pengen ke sini”
Mas nya siapaaa? Mas masa depan yang akan menemaniku huhu -skip- zzzzzzzzzzzz
Terkadang mencari tempat sepi juga mengagumkan.
Namun sejauh manapun kita pergi ingatlah bahwa akan selalu ada seseorang yang menunggumu pulang.
Pulang adalah satu hal yang selalu aku dan mungkin semua pejalan tunggu. Sementara itu, rumah adalah tempat terbaik untuk pulang.
Komentar
Posting Komentar