Langsung ke konten utama

Ojo Ngeluh!

Baiklah, dalam tulisan kali ini aku ingin mengawalinya dengan intro yang biasa dipakai oleh penulis blog lainnya ketika sudah lama tak menulis-mengisi blognya dengan tulisan-tulisannya.

"Wah, akhirnya, setelah sekian lama tak menulis, Aku menulis lagi mengisi blog yang sudah mulai berdebu."

Yak, segitu aja.

Hmm sebenernya kali ini aku pengen curhat, yaAllah sedih banget yha hidupku sampe curhat aja kudu lewat blog, lah bodoamat paling juga gaada yang baca. Seenggaknya dengan mengetik ini aku sedikit merasa lega.

Aku begitu lelah dengan dunia ini. Rasanya, aku ingin segera mengakhiri kehidupan yang sedang aku jalani dan kemudian aku kembali menikmati hidup yang baru yang biasa kita kenal dengan istilah reinkarnasi dalam ajaran beberapa agama. Tapi sayang, aku bukan manusia yang menganut ajaran seperti itu.

Namun ketika aku membuka pikiranku dan berfikir kembali secara jernih aku merasa bahwa akulah yang kurang bersyukur atas nikmat yang telah Rabbku berikan kepadaku. Aku harus sadar bahwa masih banyak hal yang harus dilakukan, ada banyak hal yang harus diselesaikan. Mengeluh bukanlah hal yang pantas aku lakukan.

Pernah terlintas dalam pikiran bahwa hidup orang lain terlihat begitu menyenangkan mereka dikelilingi oleh sahabat-sahabatnya, keluarga mereka, mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan.

Iya aku iri. Sunguh, terkadang aku barusaha untuk tertawa sendiri atau menertawai tawaan seseorang yang aku harap dapat membuatku merasa lebih bahagia. Namun bagi mereka aku receh, gak jelas yah mau gimana lagi aku juga ingin terlihat bahagia. Ah sudahlah aku tak mau terlarut, aku tak mau hidupku terlihat menyedihkan. Aku harus bangkit dan membuktikan bahwa aku juga bisa seperti mereka hahaha ini lucu kan?

Aku tahu lari dari masalah bukanlah penyelesaian. Hanya saja, kepalaku harus menemukan solusi untuk kebahagiaanku. Aku masih mampu tampak baik-baik saja. Sebab, aku menemukan banyak kebahagiaan diluar rumah yang pernah hilang. Aku tidak menginginkan ini, tapi aku rasa memang begitulah Allah azza wa jalla bekerja dalam kuasanya. Musibah bisa menjadi anugrah bila hambanya mendapatkan sesuatu yang sebenarnya telah menyertai musibah yang diberikan. Maaf, bukan musibah, tetapi ujian yang harus dilewati manusia.

Dalam mood yang sedang alay terkadang aku ingin menghilang aku ingin pergi kesuatu tempat yang tidak ada seorangpun dapat menemukanku. Namun dalam hati yang terdalam aku membutuhkan sesorang yang mampu menguatkan, aku ingin bercerita dengannya, aku ingin dia memecahkan kesepian ini, aku ingin ia mengisi kekosongan. Manusia hanya bisa berharap Allah yang menentukan.

Sebenarnya aku tidak tahu sedang menulis apa, aku hanya ingin menulis lalu mengepostnya ke blog ini. Dan seperti inilah jadinya. Aku menulis di sini bertujuan untuk mengintrospeksi diri. Karena aku tau pasti, kekesalan, kelelahan yang aku alami belum tentu kesalahan orang lain, bisa jadi semua karena salah pola pikirku sendiri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Just Try, and Feel

Belakangan ini aku mulai sering meminum minuman yang dicintai para seniman. Yep, Kopi. Aku menyukai kopi yang semula aku benci karena minuman ini terlihat mengerikan dengan ampas-ampas yang mengotori keseluruhan dinding cangkir. Kebencian yang terjadi, ternyata hanya karena ketidaktauanku tentang minuman ini. Aku menikmatinya sesuai dengan seleraku, aku hanya ingin enjoy dengan rasa kopiku. Tentang hal yang aku benci itu hanya karena aku tidak tau dan tidak memahami apa yang aku benci. Semua ketakutan yang aku takutkan itu hanya karena aku tidak berani untuk melawannya. Dari Studi Fenomena Geosfer kemarin –tunggu cerita lengkapnya- aku mendapat satu pelajaran bahwa ketika kamu mampu mengalahkan rasa takut dan mencoba menikmati ketakutanmu. Kamu akan merasakan sesuatu dari ketakutan itu. Iya aku takut akan kedalaman air, entah fikiranku yang tidak masuk akal. Karena aku selalu berfikiran bahwa air yang dalam terdapat monster didalamnya yang akan menarik kakiku u...

Tentang Pulangku

Belajarlah untuk tidak mengabaikan hal yang kecil, karena hal kecil akan menjadi besar apabila diabaikan. Banyak hal yang biasa saja adalah wujud dari kasih sayang. Hmm aku contohin hal hal yang ada disekitar ku yang mungkin sekilas terlihat biasa aja tapi itu sebenarnya wujud dari kasih sayang. Akutuh kemaren abis naik gunung yah, tapi hapenya gak dibawa dengan alesan males bawa hp terus posisinya batrenya lagi habis. Sebelumnya aku dah bilang sama Ibu kalo mau naik tgl 29. Pas mau berangkat aku gak kepikiran buat ngehubungin lagi pihak rumah kalo mau naik hari itu. Alhasil ibuku nyariin selama 3 hari itu. Mulai dari ibu kos, bapak kos, temen2 kos semuanya ditanyain. Dan aku gatau itu:’)))) Pas buka hape dapet pesan WhatsApp dari adek, “ mbak lagi dimana? Di telfon kok nggak pernah aktif hapenya” “masih di semarang dek, abis ke lawu” “kapan pulang, dicariin ibu kok nggak ngabarin lagi kalo mau ke gunung” Dan saat itu aku langsung lemes, rasanya pe...

Tentang sebuah prioritas.

Beres-beres kamar adalah aktivitas paling menyenangkan dari sekian banyak pekerjaan rumah yang lain. Yah walopun beresinnya seminggu sekali juga sih. Dari aktivitas tersebut tidak sengaja aku menemukan selembar kertas yang berisi tentang “ Must Reach selama aku kuliah di Universitas Negeri Semarang ” isinya; 1. Naik gunung minimal 10x 2. Join Mahasiswa Pecinta Alam 3. Jadi Atlet di Mapala 4. Perbanyak teman, jangan dulu pacaran 5. Mengunjungi tempat tempat baru 6. Lulus Cumlaude 7. Freelance Content Writer Dan tiba-tiba aku berpikir, kok apa yang aku tulis di tahun pertama kuliah bisa beneran terwujud padahal aku lupa pernah menuliskan hal tersebut. Tiba-tiba saja kertas tersebut muncul kembali di tahun akhir kuliah. Dan beberapa poin tersebut, poin nomor 6 menjadi sorotanku kali ini. Ingat? 5 tahun yang lalu aku sungguh beruntung dan sangat bersyukur mendapat kesempatan untuk akhirnya bisa mengenal dunia luar yang selama ini aku inginkan. Kalau dilihat kembali dul...