Langsung ke konten utama

Meneruskan Cerita Orang


Setelah aku sadari aku hidup hanya untuk meneruskan cerita orang lain.


Dulu sebelum aku memasuki bangku kuliah, sudah banyak mahasiswa yang mengalami kasus serupa denganku. Ya, mereka semua pasti pernah merasakan banyak tekanan mulai dari adaptasi tempat tinggal baru, tugas yang menumpuk, manajemen waktu maupun faktor faktor yang lain. Entah bagaimana mereka menghadapinya intinya pasti semua sama ye kan?


Dari hal-hal tersebut aku menyimpulkan bahwa; Setiap masalah yang sedang dialami seseorang ternyata telah dialami oleh orang lain. Hanya saja kita melaluinya dengan versi dan sudut pandang kita sendiri.


Aku menemukan banyak problematika hidup yang terkesan lemah apabila aku ceritakan. Ketika aku bercerita kepada kakak tingkat tentang banyaknya tugas yang aku dapatkan atau secuil masalah yang sedang aku hadapi, mereka bukannya membantu atau bagaimana untuk meringankannya namun mereka hanya tertawa seakan aku ini terlihat kebanyakan drama. Oke ternyata benar, mereka telah melewati apa yang sedang aku alami saat ini. dan mereka telah membuktikan bahwa mereka berhasil melewatinya. Apa yang aku alami saat ini belum apa apa jika dibandingkan dengan apa saja yang telah mas dan mbak tersebut lewati. Masih ada ujian lain yang lebih berat.


Masalah masalah seperti itu bukan aku saja yang mengalaminya namun aku yakin hampir semua orang pernah merasakannya. Miris sekali jika berfikir bahwa akulah makhluk yang paling sengsara. Karena faktanya apabila aku memperluas fikiranku, banyak manusia lain yang mengalami hal serupa bahkan bisa saja lebih berat dan lebih rumit dari apa yang aku rasakan.


Kita semua hanya meneruskan cerita orang lain menjadi sebuah cerita sesuai versi kita. Namun, inti dari cerita tersebut tetaplah sama dengan cerita milik orang lain.


Anggaplah tugas tersebut sebagai ujian dalam kehidupan, aku masih ingat kalimat yang disampaikan guru matematika waktu SMA intinya bagaimana cara kamu menyelesaikan tugas seperti itukah kamu menyelesaikan masalah dalam kehidupan. Semakin dibiarkan akan semakin banyak dan menumpuk padahal semua masalah itu harus diselesaikan untuk melanjutkan kehidupan kedepannya. Proses itu penting. Nikmatilah setiap proses dalam kehidupan.


Okelah iya aku akan belajar untuk tidak menjadi generasi kebanyakan mengeluh. Semua keluhan keluhan yang aku keluhkesahkan hanya akan membuatku terlihat lemah. Padahal apa yang aku hadapi hanyalah hal biasa. Ini sebenarnya aku sedang menasehati diriku sendiri karena aku harus melakukannya berkali kali karena semakin lama aku semakin paham bahwa kesulitan kesuliatan yang membuatku mengeluh tersebut aku buat sendiri, padahal mah sebenarnya B aja.


Yah aku berharap ini nggak cuma sekedar tulisan tapi aku juga harus benar benar berfikir seperti itu. Berhenti berfikir bahwa hidupku yang paling susah dan merana. Berhenti juga merasa paling bahagia atau istimewa. Berhenti berfikir bahwa aku memiliki segalanya, karena hidup hanya meneruskan cerita orang lain.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Just Try, and Feel

Belakangan ini aku mulai sering meminum minuman yang dicintai para seniman. Yep, Kopi. Aku menyukai kopi yang semula aku benci karena minuman ini terlihat mengerikan dengan ampas-ampas yang mengotori keseluruhan dinding cangkir. Kebencian yang terjadi, ternyata hanya karena ketidaktauanku tentang minuman ini. Aku menikmatinya sesuai dengan seleraku, aku hanya ingin enjoy dengan rasa kopiku. Tentang hal yang aku benci itu hanya karena aku tidak tau dan tidak memahami apa yang aku benci. Semua ketakutan yang aku takutkan itu hanya karena aku tidak berani untuk melawannya. Dari Studi Fenomena Geosfer kemarin –tunggu cerita lengkapnya- aku mendapat satu pelajaran bahwa ketika kamu mampu mengalahkan rasa takut dan mencoba menikmati ketakutanmu. Kamu akan merasakan sesuatu dari ketakutan itu. Iya aku takut akan kedalaman air, entah fikiranku yang tidak masuk akal. Karena aku selalu berfikiran bahwa air yang dalam terdapat monster didalamnya yang akan menarik kakiku u...

Tentang Pulangku

Belajarlah untuk tidak mengabaikan hal yang kecil, karena hal kecil akan menjadi besar apabila diabaikan. Banyak hal yang biasa saja adalah wujud dari kasih sayang. Hmm aku contohin hal hal yang ada disekitar ku yang mungkin sekilas terlihat biasa aja tapi itu sebenarnya wujud dari kasih sayang. Akutuh kemaren abis naik gunung yah, tapi hapenya gak dibawa dengan alesan males bawa hp terus posisinya batrenya lagi habis. Sebelumnya aku dah bilang sama Ibu kalo mau naik tgl 29. Pas mau berangkat aku gak kepikiran buat ngehubungin lagi pihak rumah kalo mau naik hari itu. Alhasil ibuku nyariin selama 3 hari itu. Mulai dari ibu kos, bapak kos, temen2 kos semuanya ditanyain. Dan aku gatau itu:’)))) Pas buka hape dapet pesan WhatsApp dari adek, “ mbak lagi dimana? Di telfon kok nggak pernah aktif hapenya” “masih di semarang dek, abis ke lawu” “kapan pulang, dicariin ibu kok nggak ngabarin lagi kalo mau ke gunung” Dan saat itu aku langsung lemes, rasanya pe...

Tentang sebuah prioritas.

Beres-beres kamar adalah aktivitas paling menyenangkan dari sekian banyak pekerjaan rumah yang lain. Yah walopun beresinnya seminggu sekali juga sih. Dari aktivitas tersebut tidak sengaja aku menemukan selembar kertas yang berisi tentang “ Must Reach selama aku kuliah di Universitas Negeri Semarang ” isinya; 1. Naik gunung minimal 10x 2. Join Mahasiswa Pecinta Alam 3. Jadi Atlet di Mapala 4. Perbanyak teman, jangan dulu pacaran 5. Mengunjungi tempat tempat baru 6. Lulus Cumlaude 7. Freelance Content Writer Dan tiba-tiba aku berpikir, kok apa yang aku tulis di tahun pertama kuliah bisa beneran terwujud padahal aku lupa pernah menuliskan hal tersebut. Tiba-tiba saja kertas tersebut muncul kembali di tahun akhir kuliah. Dan beberapa poin tersebut, poin nomor 6 menjadi sorotanku kali ini. Ingat? 5 tahun yang lalu aku sungguh beruntung dan sangat bersyukur mendapat kesempatan untuk akhirnya bisa mengenal dunia luar yang selama ini aku inginkan. Kalau dilihat kembali dul...