Anak broken home itu Rapuh! Mellow atau
terdengar melebih-lebihkan?
Kalian yang hidup normal saja kadang pernah
mengeluh tentang kehidupan apalagi mereka(rid: aku) yang nggak tau harus
mengadu kemana? Apa berlebihan jika aku menulis tentang hal ini?
Menjadi anak yang Broken Home bukanlah merupakan hal yang diinginkan oleh setiap anak di dalam suatu keluarga.
Kenapa anak harus jadi korban?
Sedih memang menjalani hidup dari keluarga broken home.
Sepertinya aku sendiri mulai larut dalam tulisan ini.
Okke
kamu bisa bilang “wake up! Ayo semangat jangan menenggelamkan
diri-sendiri lah. Jangan menganggap diri paling menderita. Kita semua
juga punya masalah” tapi aku tidak ingin dibanding-bandingkan. Hanya
saja aku tidak tahu harus mengadu pada siapa. Aku lebih mencintai dunia
mayaku dibandingkan dengan dunia nyata.
Walaupun
aku tak pernah tau kebenarannya. Aku hanya mendengar dari cerita Ayah
dan Ibu yang saling menyalahkan satu sama lain dan menganggap bahwa
masing-masing merasa benar.
Aku bahkan tak ingat sama sekali masa kecilku, dengan siapa aku bermain, siapa yang paling menyayangiku.
Tidak ada sosok ayah dan ibu didalamnya.
Aku tak pernah punya foto masa kecil.
Aku lelah mendengar kalimat kasar yang seharusnya tidak didengarkan oleh seorang gadis sepertiku ini.
Walaupun
kejadian itu sudah sangat lama dan sekarang aku punya Ayah baru yang
mau merawatku dan menyayangiku, tetap saja perasaan itu akan tetap
janggal. Ketika adek lebih mendapatkan apa yang Ia mau. Aku hanya bisa
bersyukur masih ada yang mau merawatku, dan sadar Ia memang seharusnya
seperti itu mendapatkan semua dari Ayahnya sendiri. Aku tidak boleh iri
bukan? Ibuku? Bahkan aku tidak dekat dengan mereka semua yang ada
dirumah. Aku merasa asing dirumah. Apakah aku anak durhaka? Hhh entahlah
semoga Allah mengampuni dosaku.
Sekarang kenyataan membuatku kuat dan pandai! Pandai menutupi kesedihannya di depan orang-orang yang aku cintai.
Oh
Tuhan kenyataan ini sangat pahit. Semoga dalam hal ini aku dapat
melihat dari sudut pandang yang lain. Yang membuatku berfikir bahwa ini
memang bagian dari rencana-Mu dan tidak terus menyalahkan Mereka.
Aku butuh Mereka untuk menemaniku
Aku butuh dorongan dan dukungan dari Mereka
Dan
kini, perpisahan mengajarkanku agar aku tetap menjadi wanita kuat dan
hebat. Dan akan aku jadikan pelajaran untuk masa depanku kelak. Cukup
aku yang merasakannya diumur yang masih sangat kecil. Anak dan cucuku
nanti jangan.
Sebenarnya, aku sedang manasehati diriku sendiri yang sudah terlalu lelah dalam menjalani kehidupan yang tak kusenangi.
Pelajarannya
adalah, pahit bukan suatu hal yang hina dalam kehidupan manusia. Bila
kita mengetahui cara menyikapinya maka pahit itu akan menjadi nikmat
yang bisa kita jadikan pelajaran dalam kehidupan. Menyelam tentu jadi
atraksi yang jau lebih memuaskan daripada hanya sekedar menenggelamkan
diri ke dalam air, bukan?
Silahkan tegur aku apabila terdapat kesalahan dalam tulisanku ini. Aku hanya menulis dari sudut pandang Aku. Sekian.
Komentar
Posting Komentar