Langsung ke konten utama

AKAN BAIK-BAIK SAJA



Tak semua hal perlu kita mengerti. Sesekali coba diam dan syukuri. Bahwasanya, hidup kita lebih besar dibandingkan fana yang selama ini kita anggap benar.

Bersabarlah untuk sesuatu yang aku dan kamu sudah berjanji untuk menantinya dengan baik. Disini kita sama-sama belajar untuk tidak menjadi pribadi yang lemah. Membentuk rasa kekeluargaan yang tidak instan bisa diciptakan. Dalam prosesnya tidak sedikit masalah yang mengikutinya. Aku paham kalian kuat telah banyak hal yang kita lewati bersama-sama sampai saat ini. bersabarlah sayang, lagi dan lagi dengan seluas luasnya hatimu. Didiklah hatimu untuk bersyukur, selalu dan selalu.

Jangan lelah mendidik hati! Sebab kelak pada suatu hari selepas menempuh perjalanan panjang yang tak mudah dilalui, kita akan duduk terdiam sambil meluruskan kaki, mensyukuri segala tempaan yang ternyata menjadikan kita mendewasa sedemikian rupa. Dalam perjalanan itu, ada sedih, kecewa, marah, kehilangan, pengabdian dan semua hal lain yang nyatanya membuat hati menjadi kuat dan tegar. Kelak suatu hari, kita bisa bercerita kepada orang lain tentang sebuah inspirasi yang semoga membuat mereka bersemangat mengupayakan kuat dan tegarnya masing-masing.

Akan selalu saja ada suatu masalah yang harus kamu dan aku hadapi. Ketika kau kira masalah takkan bertambah banyak, tiba-tiba datang masalah baru. Kau hanya bisa menunduk diujung dunia. Lantas berpura-pura semua baik-baik saja, agar mereka tidak perlu banyak bertanya. Kita sama aku tahu rasanya; untuk terluka dan hilang arah; untuk rapuh dan terjatuh. Ya sudah biar sajalah..

Kau tahu apa yang dokter pertama kali lakukan jika bayi yang terlahir ke bumi ini bergeming? Ia akan menepuknya sampai bayi itu menangis. Ya. Menangis mendakan bahwa kita hidup, bukan menandakan kita lemah. Apa yang kita lakukan setelah menangislah yang menentukan sekuat apa diri kita.

Setiap orang mempunyai alasan mereka masing-masing dalam melakukan sesuatu, hal yang tidak bisa kita hakimi jika tak tahu cerita dibaliknya. Setiap pelarian mempunyai sakitnya sendiri-sendiri, setiap kepulangan mempunyai sembuhnya sendiri-sendiri. Namun, satu hal yang pasti; kita akan mendapatkan banyak pelajaran hidup jika berani keluar dari zona nyaman.

Orang-orang yang pernah dikecewakan hatinya, dibiarkan terluka, dibuat berantakan perasaannya, akan selalu punya cara untuk mampu memulihkan kembali dirinya. Maka, percayalah segalanya akan baik-baik saja. biarlah rasa kecewa yang mengajarkan diri dewasa menerima segala hal yang pernah membuat luka. Tetaplah berusaha, jalan terbaik akan selalu ada bagi siapa saja yang bersedia berlapang dada menerima.

Tidak apa-apa untuk merasa tidak baik-baik saja. Kita manusia, wajar untuk terluka. Jangan khawatir. Bahkan badai terhebatpun pasti akan reda. Semangat buat kalian temen-temanku tercinta di sini.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Just Try, and Feel

Belakangan ini aku mulai sering meminum minuman yang dicintai para seniman. Yep, Kopi. Aku menyukai kopi yang semula aku benci karena minuman ini terlihat mengerikan dengan ampas-ampas yang mengotori keseluruhan dinding cangkir. Kebencian yang terjadi, ternyata hanya karena ketidaktauanku tentang minuman ini. Aku menikmatinya sesuai dengan seleraku, aku hanya ingin enjoy dengan rasa kopiku. Tentang hal yang aku benci itu hanya karena aku tidak tau dan tidak memahami apa yang aku benci. Semua ketakutan yang aku takutkan itu hanya karena aku tidak berani untuk melawannya. Dari Studi Fenomena Geosfer kemarin –tunggu cerita lengkapnya- aku mendapat satu pelajaran bahwa ketika kamu mampu mengalahkan rasa takut dan mencoba menikmati ketakutanmu. Kamu akan merasakan sesuatu dari ketakutan itu. Iya aku takut akan kedalaman air, entah fikiranku yang tidak masuk akal. Karena aku selalu berfikiran bahwa air yang dalam terdapat monster didalamnya yang akan menarik kakiku u...

Tentang Pulangku

Belajarlah untuk tidak mengabaikan hal yang kecil, karena hal kecil akan menjadi besar apabila diabaikan. Banyak hal yang biasa saja adalah wujud dari kasih sayang. Hmm aku contohin hal hal yang ada disekitar ku yang mungkin sekilas terlihat biasa aja tapi itu sebenarnya wujud dari kasih sayang. Akutuh kemaren abis naik gunung yah, tapi hapenya gak dibawa dengan alesan males bawa hp terus posisinya batrenya lagi habis. Sebelumnya aku dah bilang sama Ibu kalo mau naik tgl 29. Pas mau berangkat aku gak kepikiran buat ngehubungin lagi pihak rumah kalo mau naik hari itu. Alhasil ibuku nyariin selama 3 hari itu. Mulai dari ibu kos, bapak kos, temen2 kos semuanya ditanyain. Dan aku gatau itu:’)))) Pas buka hape dapet pesan WhatsApp dari adek, “ mbak lagi dimana? Di telfon kok nggak pernah aktif hapenya” “masih di semarang dek, abis ke lawu” “kapan pulang, dicariin ibu kok nggak ngabarin lagi kalo mau ke gunung” Dan saat itu aku langsung lemes, rasanya pe...

Tentang sebuah prioritas.

Beres-beres kamar adalah aktivitas paling menyenangkan dari sekian banyak pekerjaan rumah yang lain. Yah walopun beresinnya seminggu sekali juga sih. Dari aktivitas tersebut tidak sengaja aku menemukan selembar kertas yang berisi tentang “ Must Reach selama aku kuliah di Universitas Negeri Semarang ” isinya; 1. Naik gunung minimal 10x 2. Join Mahasiswa Pecinta Alam 3. Jadi Atlet di Mapala 4. Perbanyak teman, jangan dulu pacaran 5. Mengunjungi tempat tempat baru 6. Lulus Cumlaude 7. Freelance Content Writer Dan tiba-tiba aku berpikir, kok apa yang aku tulis di tahun pertama kuliah bisa beneran terwujud padahal aku lupa pernah menuliskan hal tersebut. Tiba-tiba saja kertas tersebut muncul kembali di tahun akhir kuliah. Dan beberapa poin tersebut, poin nomor 6 menjadi sorotanku kali ini. Ingat? 5 tahun yang lalu aku sungguh beruntung dan sangat bersyukur mendapat kesempatan untuk akhirnya bisa mengenal dunia luar yang selama ini aku inginkan. Kalau dilihat kembali dul...